Latar Belakang Krisis Venezuela–AS
Presiden interim Delcy Rodríguez mengumumkan bahwa ia telah mengadakan pembicaraan dengan beberapa pemimpin negara terkait situasi di Venezuela yang tengah mengalami ketegangan besar dengan United States. Pembicaraan dilakukan dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Kolombia Gustavo Petro, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez.
Menurut pernyataan yang dibagikan Rodriguez melalui platform Telegram, dialog tersebut berlangsung di tengah apa yang ia sebut sebagai “agresi kriminal, ilegal, dan tidak sah” yang dilakukan terhadap Venezuela oleh Amerika Serikat. Pernyataan lengkapnya dikutip oleh berbagai media, termasuk Antara dan Xinhua, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Apa yang Dibahas dalam Pembicaraan Pemimpin
Dalam perbincangan tersebut, Rodriguez mengatakan bahwa para pemimpin sepakat mengenai pentingnya kerja sama bilateral luas. Fokus utama dari kerja sama itu ialah penghormatan terhadap hukum internasional, kedaulatan negara, dan dialog antarnegara.
Rodríguez juga menyampaikan kepada para pemimpin laporan terperinci mengenai serangan bersenjata terhadap wilayah Venezuela yang, menurut pemerintah Venezuela, telah menyebabkan lebih dari 100 warga sipil dan personel militer tewas dalam beberapa insiden terbaru.
Selain itu, ia menuding bahwa terjadi pelanggaran serius hukum internasional, termasuk pelanggaran terhadap imunitas pribadi Presiden konstitusional Venezuela, Nicolás Maduro Moros, serta Ibu Negara Cilia Flores.
Kronologi Operasi Militer AS
Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi besar-besaran di wilayah Venezuela yang berujung dengan penangkapan Presiden Maduro dan istrinya Cilia Flores, sebelum membawa keduanya ke New York, AS. Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasangan tersebut akan diadili atas tuduhan keterlibatan dalam “narko-terorisme” dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi keamanan AS.
Tindakan tersebut memicu kontroversi internasional dan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas operasi tersebut.
Pengalihan Kekuasaan kepada Delcy Rodríguez
Merespons operasi AS tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menyatakan bahwa Presiden Maduro mengalami ketidakhadiran sementara akibat penangkapannya. Mahkamah kemudian mengalihkan tugas-tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Ia kemudian resmi dilantik sebagai presiden interim di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari 2026.
Sebagai presiden interim, Rodríguez menegaskan bahwa pemerintahnya akan terus mempertahankan kedaulatan Venezuela dan berupaya merespons tekanan eksternal melalui diplomasi dan kerja sama internasional.
Respons Internasional terhadap Situasi Venezuela
Reaksi atas perkembangan tersebut tidak hanya datang dari Brasil, Kolombia, dan Spanyol. Menurut catatan reaksi internasional, sejumlah negara menolak tindakan militer AS di Venezuela dengan menyatakan bahwa operasi unilateral semacam itu bisa melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan kedaulatan negara.
Presiden Brasil Lula da Silva telah mengecam operasi militer tersebut sebagai sesuatu yang “melampaui batas yang dapat diterima”. Sementara itu, kolom pernyataan gabungan dari beberapa negara, termasuk Spanyol dan Kolombia, menyatakan keprihatinan atas tindakan militer yang dianggap memicu ketidakstabilan regional.
Negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok juga menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela dan menyerukan pembebasan Maduro dan Flores, serta penolakan terhadap eskalasi lebih lanjut.
Panggilan untuk Kerja Sama dan Diplomasi
Meskipun ketegangan tinggi, sebagian pihak menilai dialog multilateral masih menjadi jalan penting untuk meredakan konflik. Rodríguez menekankan bahwa kerja sama antarnegara dan penghormatan terhadap hukum internasional merupakan dasar yang harus dibangun bersama untuk mencegah eskalasi lebih jauh.
Dialog tersebut seperti dialami oleh Rodríguez dengan para pemimpin Brasil, Kolombia, dan Spanyol dapat membuka ruang diplomasi yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi Venezuela di forum internasional.
Ruang Lingkup Isu yang Dihadapi
Situasi yang memicu perbincangan internasional ini tidak hanya berkaitan dengan peristiwa militer baru-baru ini, tetapi juga berkaitan dengan dinamika politik yang lebih luas di Venezuela. Kejadian penangkapan Maduro dan Flores memicu kekhawatiran tentang stabilitas pemerintahan dan legitimasi kepemimpinan baru di Venezuela.
Peran Rodríguez sebagai presiden interim dipandang sebagai titik kritis dalam sejarah politik Venezuela, terutama dalam konteks hubungan bilateral dan multilateralis di kawasan Amerika Latin serta hubungan dengan negara-negara Eropa seperti Spanyol.
Potensi Dampak Politik dan Keamanan Regional
Ketegangan yang terjadi antara AS dan Venezuela memiliki dampak besar tidak hanya bagi negara itu sendiri, tetapi juga bagi stabilitas keamanan dan politik di kawasan Amerika Latin. Negara-negara tetangga seperti Brasil dan Kolombia memiliki kepentingan strategis dalam meredakan krisis ini mengingat hubungan ekonomi, politik, dan migrasi yang saling terkait di kawasan tersebut.
Upaya diplomatik Indonesia, Amerika Serikat, dan negara lain kini akan terfokus pada solusi jangka panjang yang mampu menyeimbangkan kepentingan nasional, hukum internasional, dan hak asasi manusia.
Penutup
Pembicaraan antara Presiden interim Venezuela Delcy Rodríguez dan pemimpin Brasil, Kolombia, serta Spanyol memperlihatkan upaya diplomasi lintas batas untuk merespons apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat. Persoalan ini menyentuh isu kedaulatan negara, hukum internasional, serta kerja sama bilateral yang konstruktif di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Baca Juga : Pemerintah Maksimalkan Aset Indonesia Tekan Biaya Haji
Cek Juga Artikel Dari Platform : ngobrol

