Puncak perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026 di kawasan Kota Tua Jakarta ditutup dengan doa bersama enam pemuka agama. Doa lintas iman tersebut dipanjatkan tidak hanya sebagai penanda dimulainya tahun baru, tetapi juga sebagai wujud empati dan solidaritas bagi para korban bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra.
Meskipun hujan sempat mengguyur kawasan Kota Tua, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Ribuan warga dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya memadati area perayaan sejak sore hari, menunjukkan bahwa semangat menyambut tahun baru tidak luntur meski konsep perayaan tahun ini digelar lebih sederhana dan reflektif.
Antusiasme Warga di Tengah Hujan
Salah seorang pengunjung, Anna Ria (23), mengaku sangat mengapresiasi penyelenggaraan perayaan malam tahun baru di Kota Tua. Menurutnya, hujan yang turun justru tidak mengurangi semangat warga untuk tetap hadir dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
“Menurut saya, masyarakat sangat antusias menyambut Tahun Baru 2026. Walaupun hujan, semangat warga tetap terasa,” ujarnya, Kamis (1/1).
Anna menilai, kehadiran warga yang tetap bertahan hingga puncak acara mencerminkan kerinduan masyarakat terhadap ruang publik yang aman, inklusif, dan bermakna. Kota Tua, sebagai kawasan bersejarah, dinilai mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat meski tanpa kemeriahan berlebihan.
Nuansa Berbeda Tanpa Kembang Api
Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta memang digelar dengan konsep yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya malam pergantian tahun identik dengan pesta kembang api, kali ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih pendekatan yang lebih sederhana dan penuh empati.
“Biasanya tahun baru dirayakan dengan kembang api yang meriah. Namun tahun ini berbeda karena kita masih berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra. Perayaannya diganti dengan doa bersama dan pertunjukan drone, dan menurut saya itu tetap menarik,” kata Anna.
Pertunjukan drone yang menghiasi langit Kota Tua menjadi salah satu daya tarik utama malam itu. Ratusan drone membentuk pola cahaya yang artistik sekaligus menyampaikan pesan solidaritas, harapan, dan kebersamaan. Visual tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung yang memadati area Lapangan Fatahillah dan sekitarnya.
Doa Lintas Agama sebagai Penutup
Puncak acara ditandai dengan doa bersama yang dipimpin enam pemuka agama. Doa lintas iman ini menjadi simbol persatuan dan toleransi, sekaligus pengingat bahwa pergantian tahun bukan hanya soal perayaan, tetapi juga momentum untuk merenung dan memperkuat kepedulian sosial.
Dalam suasana khidmat, masyarakat tampak mengikuti doa dengan penuh kekhusyukan. Banyak pengunjung yang menundukkan kepala, mengangkat tangan, atau sekadar terdiam merenungi perjalanan setahun ke belakang. Bagi sebagian warga, momen ini justru terasa lebih berkesan dibandingkan pesta kembang api yang biasanya berlangsung singkat.
Doa-doa yang dipanjatkan mencakup harapan akan keselamatan bangsa, pemulihan bagi wilayah terdampak bencana, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Penutup ini mempertegas pesan bahwa Tahun Baru 2026 disambut dengan semangat kebersamaan dan kepedulian.
Kepuasan Warga atas Konsep Reflektif
Anna, yang akrab disapa Nana, mengaku puas dengan konsep perayaan yang lebih sederhana namun sarat makna tersebut. Menurutnya, pendekatan reflektif seperti ini justru memberikan kesan mendalam dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Ia menilai bahwa perayaan tahun baru tidak selalu harus identik dengan kemeriahan dan pesta besar. Sebaliknya, kegiatan yang menumbuhkan empati dan kebersamaan dapat menjadi cara yang lebih bermakna untuk menyambut tahun yang baru.
“Perayaannya sederhana, tapi justru terasa lebih hangat dan berkesan. Kita bisa menikmati hiburan, tapi juga diingatkan untuk peduli pada sesama,” tuturnya.
Harapan Warga di Tahun 2026
Selain menikmati perayaan, Nana juga menyampaikan harapannya untuk Jakarta di tahun 2026. Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan publik bagi warganya.
“Dengan tahun yang baru, tentu harapannya juga baru. Saya berharap pemerintah terus meningkatkan pelayanan publik. Program-program yang sudah berjalan, seperti makanan bergizi, semoga bisa terus ditingkatkan,” jelasnya.
Menurutnya, keberlanjutan program sosial sangat penting untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat merasakan manfaat pembangunan, terutama kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih.
Transportasi Publik Jadi Sorotan
Nana juga menaruh perhatian khusus pada sektor transportasi publik. Sebagai warga yang aktif beraktivitas di Jakarta, ia merasakan langsung manfaat layanan Transjakarta dalam menunjang mobilitas harian masyarakat.
“Kalau untuk transportasi, harapannya Transjakarta tetap berjalan karena sangat memudahkan masyarakat. Mudah-mudahan ke depan pelayanannya justru semakin baik,” tandasnya.
Ia menilai, transportasi publik yang terjangkau dan terintegrasi merupakan salah satu kunci bagi Jakarta untuk terus berkembang sebagai kota global yang ramah bagi warganya.
Kota Tua sebagai Ruang Kebersamaan
Perayaan Tahun Baru 2026 di Kota Tua membuktikan bahwa ruang publik bersejarah dapat berfungsi sebagai pusat kebersamaan dan refleksi. Dengan konsep perayaan yang aman, tertib, dan bermakna, kawasan ini kembali menegaskan perannya sebagai ruang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Antusiasme warga, doa lintas agama, serta pertunjukan drone yang sarat pesan kemanusiaan menjadikan malam pergantian tahun di Kota Tua bukan sekadar perayaan, melainkan juga simbol persatuan dan harapan. Menyongsong 2026, Jakarta menutup tahun dengan pesan kuat: kebersamaan, empati, dan optimisme adalah fondasi utama untuk melangkah ke masa depan.
Baca Juga : Wali Kota Jakbar Pastikan Malam Tahun Baru Berjalan Kondusif
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : dapurkuliner

