Luapan Citarum dan Cibeet Rendam Ribuan Rumah Karawang
Banjir besar kembali melanda Kabupaten Karawang, Jawa Barat, akibat luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Memasuki hari kedua, genangan air belum menunjukkan tanda-tanda surut dan justru terus meluas ke berbagai wilayah permukiman warga.
Ribuan rumah dilaporkan terendam, sementara aktivitas masyarakat lumpuh di sejumlah kecamatan. Kondisi ini memaksa aparat gabungan untuk bekerja tanpa henti melakukan evakuasi dan pendataan dampak banjir.
Situasi banjir di Karawang menjadi perhatian serius karena wilayah ini merupakan kawasan padat penduduk sekaligus sentra industri dan pertanian penting di Jawa Barat.
Debit Air Terus Meningkat
Berdasarkan pemantauan di lapangan, debit air kedua sungai utama di wilayah Karawang terus mengalami peningkatan.
Ketinggian muka air Sungai Citarum dilaporkan mencapai sekitar 13 meter di atas permukaan laut. Angka ini mengalami kenaikan dibanding hari sebelumnya yang masih berada di kisaran 12 meter.
Sementara itu, Sungai Cibeet menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan dengan ketinggian muka air mencapai sekitar 19 meter di atas permukaan laut.
Status Siaga Tertinggi Ditetapkan
Dengan kondisi tersebut, kedua sungai kini berada pada status siaga tertinggi.
Penetapan status ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi luapan yang lebih besar serta risiko banjir susulan.
Petugas terus memantau perkembangan debit air secara berkala untuk mengantisipasi perubahan situasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Banjir Meluas ke 13 Kecamatan
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Karawang menunjukkan bahwa banjir telah meluas ke 13 kecamatan.
Wilayah-wilayah tersebut mencakup kawasan permukiman, area persawahan, hingga jalur transportasi utama.
Akibatnya, mobilitas warga terganggu dan sejumlah akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan.
Ribuan Rumah Terendam
Ribuan rumah warga terendam dengan ketinggian air bervariasi.
Di beberapa lokasi, genangan air mencapai lutut orang dewasa, sementara di titik lain air bahkan masuk hingga ke dalam rumah dan menutupi perabotan.
Kondisi ini memaksa sebagian besar warga mengungsi untuk menyelamatkan diri dan harta benda yang masih bisa dibawa.
Evakuasi Terus Dilakukan
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan aparat desa terus melakukan evakuasi terhadap warga terdampak.
Perahu karet digunakan untuk menjangkau daerah yang sulit diakses akibat genangan air.
Prioritas evakuasi diberikan kepada lansia, anak-anak, ibu hamil, serta warga yang memiliki keterbatasan fisik.
Lokasi Pengungsian Disiapkan
Pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian.
Fasilitas umum seperti balai desa, gedung sekolah, dan tempat ibadah dimanfaatkan sebagai pos sementara bagi warga terdampak.
Di lokasi pengungsian, petugas menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan layanan kesehatan.
Dampak terhadap Aktivitas Warga
Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Sebagian warga tidak dapat berangkat bekerja, sementara kegiatan sekolah terpaksa dihentikan.
Sektor pertanian turut terdampak karena lahan persawahan tergenang air dalam waktu cukup lama.
Ancaman Penyakit Pasca Banjir
Selain kerugian materi, banjir juga membawa risiko kesehatan.
Genangan air yang berlangsung lama berpotensi menimbulkan penyakit seperti diare, infeksi kulit, hingga demam.
Petugas kesehatan telah disiagakan untuk memberikan pelayanan medis di lokasi pengungsian.
Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu Utama
Banjir di Karawang dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah hulu sungai.
Aliran air dari daerah hulu memperbesar debit Sungai Citarum dan Cibeet hingga melampaui kapasitas normal.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai secara menyeluruh.
Tantangan Penanganan Banjir
Penanganan banjir di Karawang menghadapi berbagai tantangan.
Topografi wilayah yang relatif datar membuat air sulit mengalir keluar dengan cepat.
Selain itu, pendangkalan sungai dan penyempitan alur air turut memperparah kondisi banjir.
Koordinasi Antarinstansi
Pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait.
Langkah ini bertujuan memastikan penanganan banjir berjalan terpadu, mulai dari evakuasi hingga distribusi bantuan.
Sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam menghadapi bencana berskala besar seperti ini.
Imbauan kepada Warga
Petugas mengimbau warga yang berada di daerah rawan agar segera mengungsi.
Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama dibandingkan harta benda.
Warga juga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama jika debit air sungai kembali meningkat.
Pentingnya Mitigasi Jangka Panjang
Banjir yang berulang di Karawang menunjukkan perlunya solusi jangka panjang.
Normalisasi sungai, perbaikan tanggul, serta pengelolaan lingkungan di daerah hulu menjadi langkah penting.
Tanpa mitigasi yang berkelanjutan, risiko banjir diperkirakan akan terus berulang setiap musim hujan.
Peran Masyarakat dalam Pengurangan Risiko
Selain peran pemerintah, masyarakat juga memiliki kontribusi penting.
Menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta menjaga saluran air dapat membantu mengurangi risiko banjir.
Kesadaran kolektif menjadi bagian penting dari upaya pengurangan bencana.
Kesimpulan
Luapan Sungai Citarum dan Cibeet menyebabkan banjir besar di Kabupaten Karawang yang merendam ribuan rumah di 13 kecamatan.
Ketinggian muka air yang terus meningkat membuat status siaga tertinggi diberlakukan.
Petugas gabungan terus melakukan evakuasi dan menyiapkan pengungsian bagi warga terdampak.
Banjir ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sungai dan mitigasi bencana yang berkelanjutan agar dampak serupa dapat diminimalkan di masa depan.
Baca Juga : PM Jepang Bubarkan Parlemen Jelang Pemilu Dipercepat
Cek Juga Artikel Dari Platform : london-bridges

