Ketahanan kesehatan kini tidak lagi dapat diposisikan sekadar sebagai urusan layanan medis ketika penyakit datang. Ia telah berkembang menjadi investasi peradaban, penopang keberlanjutan kehidupan, dan fondasi ketahanan bangsa di tengah dunia yang semakin kompleks. Cara pandang inilah yang menjadi benang merah buku Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa karya DR. Cashtry Meher, seorang dokter, penulis, dan pemikir ketahanan kesehatan nasional.
Dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Cashtry menegaskan bahwa menjaga kehidupan merupakan bentuk tertinggi dari keberadaban sebuah bangsa. Menurutnya, bangsa yang besar bukan hanya dinilai dari kekuatan ekonomi atau kemajuan teknologinya, melainkan dari sejauh mana negara mampu melindungi warganya sejak sebelum sakit datang hingga fase pemulihan pascakrisis.
Kesehatan Bukan Sekadar Layanan, Melainkan Fondasi
Selama ini, kesehatan kerap dipahami secara sempit sebagai layanan kuratif—rumah sakit, obat-obatan, dan tenaga medis yang bekerja ketika penyakit muncul. Dalam buku ini, Cashtry mengajak pembaca untuk melampaui paradigma tersebut.
Ia menekankan bahwa ketahanan kesehatan harus dibangun sebagai fondasi pembangunan nasional, bukan sekadar konsekuensi di akhir proses. Negara yang kuat adalah negara yang mampu mencegah risiko kesehatan, meminimalkan dampak krisis, serta memastikan pemulihan kehidupan berjalan adil dan berkelanjutan.
“Ketahanan kesehatan tidak semata diukur dari kemampuan merespons krisis, melainkan dari kapasitas sistemik bangsa untuk mencegah, melindungi, dan memulihkan kehidupan secara konsisten,” ujar Cashtry.
Kesehatan sebagai Sistem Perlindungan Kehidupan
Melalui Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa, kesehatan diposisikan sebagai sistem perlindungan kehidupan. Sistem ini bekerja jauh sebelum risiko muncul, melalui edukasi, lingkungan yang sehat, tata kelola publik yang baik, dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan manusia.
Dalam kerangka ini, kesehatan tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan erat dengan:
- Pendidikan, yang membentuk kesadaran hidup sehat sejak dini
- Lingkungan, yang menentukan kualitas udara, air, dan pangan
- Ekonomi, yang memengaruhi akses layanan kesehatan
- Tata kelola publik, yang memastikan kebijakan berpihak pada keselamatan manusia
Pendekatan ini menegaskan bahwa kegagalan satu sektor dapat berdampak langsung pada rapuhnya sistem kesehatan secara keseluruhan.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci
Salah satu pesan utama buku ini adalah pentingnya kolaborasi lintas sektor. Cashtry menilai ketahanan kesehatan nasional tidak mungkin dibangun oleh satu institusi atau profesi saja.
“Ketahanan kesehatan nasional hanya dapat terwujud melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor. Kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi urusan bersama,” jelasnya dalam peluncuran buku di Jakarta.
Ia mendorong kolaborasi antara:
- Pemerintah pusat dan daerah
- Tenaga kesehatan dan akademisi
- Dunia usaha dan industri
- Komunitas dan masyarakat sipil
Semua pihak tersebut dipandang sebagai satu ekosistem kehidupan yang saling menguatkan demi tujuan bersama: menjaga dan memuliakan kehidupan manusia.
Dari Reaktif ke Preventif, dari Sektoral ke Sistemik
Buku ini juga menawarkan pergeseran cara pandang kolektif. Cashtry mengajak pembaca meninggalkan pola pikir reaktif—yang baru bergerak saat krisis terjadi—menuju pendekatan preventif dan antisipatif.
Selain itu, ia mendorong perubahan dari pendekatan sektoral menjadi sistemik. Artinya, kebijakan kesehatan tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus terintegrasi dengan kebijakan pembangunan lain.
Pendekatan ini juga menuntut cara berpikir lintas generasi. Ketahanan kesehatan bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi untuk memastikan kualitas hidup generasi mendatang.
Kesehatan sebagai Bahasa Bersama Kebangsaan
Menariknya, Cashtry memaknai kesehatan sebagai bahasa bersama kebangsaan. Bahasa yang menyatukan berbagai latar belakang, profesi, dan kepentingan, karena semuanya berangkat dari satu titik temu yang sama: kehidupan.
Dalam perspektif ini, kesehatan menjadi ruang dialog bersama yang melampaui sekat politik, ekonomi, maupun ideologi. Ketika kesehatan dijadikan bahasa bersama, maka kolaborasi menjadi lebih mungkin dan konflik kepentingan dapat diminimalkan.
Bukan Kritik, Melainkan Ajakan Berjalan Bersama
Cashtry menegaskan bahwa bukunya tidak ditulis untuk mengkritik pihak tertentu. Sebaliknya, Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa merupakan ajakan untuk berjalan bersama dalam membangun ketahanan kesehatan nasional.
Ia menilai keberhasilan buku ini tidak diukur dari angka penjualan atau sorotan media. Keberhasilannya justru terletak pada sejauh mana gagasan di dalamnya hidup dalam diskursus publik, menjadi rujukan pemikiran, dan memandu kolaborasi nyata di lapangan.
“Keberhasilan buku ini adalah ketika gagasannya hidup, menginspirasi tindakan, dan memperkuat kolaborasi dalam membangun ketahanan kesehatan nasional,” tuturnya.
Ketahanan Kesehatan sebagai Investasi Peradaban
Pada akhirnya, buku ini menegaskan satu pesan besar: ketahanan kesehatan adalah investasi peradaban. Ia bukan biaya, bukan beban anggaran, melainkan modal dasar untuk memastikan keberlanjutan kehidupan, stabilitas sosial, dan martabat bangsa.
Di tengah dunia yang rentan krisis—mulai dari pandemi, perubahan iklim, hingga ketidakpastian global—pendekatan ini menjadi semakin relevan. Bangsa yang mampu menjaga kesehatan warganya secara sistemik adalah bangsa yang siap menghadapi masa depan.
Dengan Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa, DR. Cashtry Meher tidak hanya menghadirkan sebuah buku, tetapi juga sebuah kerangka berpikir yang menempatkan kesehatan sebagai jantung pembangunan dan penanda keberadaban manusia.
Baca Juga : BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Ini Penjelasan Resminya
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritapembangunan

