Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat memastikan pemulihan layanan keagamaan di wilayah terdampak bencana banjir. Fokus pemulihan dilakukan di sejumlah provinsi yang mengalami kerusakan cukup parah, yakni Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Langkah ini diambil agar hak masyarakat untuk beribadah tetap terpenuhi, sekaligus memastikan ruang-ruang keagamaan dapat kembali berfungsi sebagai pusat spiritual dan sosial umat.
Melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam), Kemenag menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut pemulihan mental dan spiritual masyarakat. Terlebih menjelang Ramadan, keberadaan masjid, KUA, dan madrasah menjadi sangat vital bagi kehidupan keagamaan warga.
Layanan Keagamaan Tidak Boleh Terhenti
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa layanan keagamaan merupakan bagian dari pelayanan dasar negara yang harus tetap berjalan, bahkan dalam situasi darurat.
“Penanganan pascabencana harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara simultan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang-ruang keagamaan lainnya perlu segera dipulihkan agar tetap berfungsi sebagai pusat layanan umat, terlebih menjelang Ramadan. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti,” ujar Abu Rokhmad saat melakukan kunjungan lapangan di Aceh.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Kemenag untuk tidak memandang pemulihan rumah ibadah sebagai agenda sekunder, melainkan sebagai bagian penting dari pemulihan kehidupan masyarakat secara utuh.
Tinjau Langsung Lokasi Terdampak di Aceh
Dalam rangka memastikan bantuan tepat sasaran, Abu Rokhmad melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi terdampak banjir di Aceh, di antaranya Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Di lokasi-lokasi tersebut, ia mengunjungi posko kemanusiaan, masjid, Kantor Urusan Agama (KUA), serta madrasah yang terdampak.
Selain meninjau kondisi fisik bangunan, Abu juga berdialog langsung dengan warga, penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan para relawan. Dialog ini bertujuan memetakan kebutuhan mendesak di lapangan, mulai dari sarana ibadah, air bersih, hingga kelangsungan pendidikan keagamaan bagi anak-anak.
“Kita perlu mendengar langsung suara masyarakat agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan,” ujar Abu.
Kolaborasi dengan BAZNAS dan Lembaga Zakat
Kemenag menegaskan bahwa pemulihan layanan keagamaan tidak dilakukan sendiri. Upaya ini melibatkan kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional, berbagai lembaga amil zakat (LAZ), unsur masyarakat, serta perguruan tinggi.
Kolaborasi lintas lembaga ini memungkinkan intervensi yang cepat dan berkelanjutan. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa renovasi fisik, tetapi juga dukungan logistik dan fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari.
Di Kabupaten Pidie Jaya, misalnya, Kemenag meninjau posko BAZNAS yang menyediakan air bersih dan MCK darurat bagi warga terdampak. Selain itu, sejumlah meunasah (surau) yang terendam banjir juga menjadi sasaran pembersihan dan pemulihan agar dapat kembali digunakan untuk ibadah harian.
Dapur Umum dan Gotong Royong Warga
Di lokasi lain, Kemenag bersama LAZ ASAR mendukung operasional dapur umum yang melayani ratusan kepala keluarga terdampak banjir. Dapur umum ini menjadi penopang penting bagi warga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan akibat bencana.
Selain itu, kegiatan gotong royong warga juga mendapat dukungan penuh. Proses pembersihan masjid dilakukan bersama masyarakat setempat dengan bantuan alat berat, terutama untuk mengangkat lumpur dan material sisa banjir yang mengendap di area rumah ibadah.
Kemenag juga menyalurkan bantuan sarana ibadah seperti alat salat, Al-Qur’an, mukena, dan sarung. Bantuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, mengingat banyak perlengkapan ibadah warga yang rusak atau hanyut akibat banjir.
Madrasah Harus Tetap Menjadi Ruang Aman
Pemulihan tidak hanya difokuskan pada masjid dan KUA, tetapi juga pada sektor pendidikan keagamaan. Abu Rokhmad memastikan bahwa proses belajar mengajar di madrasah tetap berlangsung meski dalam kondisi pascabencana.
Salah satu lokasi yang ditinjau adalah MIN 4 Pidie Jaya, yang telah mendapatkan renovasi dari lembaga zakat. Selain renovasi bangunan, dukungan juga diberikan dalam bentuk penyediaan madrasah sementara agar aktivitas pendidikan tidak terhenti.
“Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” tegas Abu.
Menurutnya, keberlangsungan pendidikan keagamaan sangat penting untuk menjaga stabilitas psikologis anak-anak yang terdampak bencana, sekaligus memastikan hak mereka atas pendidikan tetap terpenuhi.
Masjid sebagai Pusat Pemulihan Sosial
Kemenag memandang masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemulihan sosial masyarakat. Di masa pascabencana, masjid berfungsi sebagai tempat berkumpul, berbagi informasi, dan menguatkan solidaritas antarwarga.
Menjelang Ramadan, peran masjid menjadi semakin strategis. Selain sebagai tempat ibadah wajib dan sunah, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial seperti buka puasa bersama, pengumpulan zakat, infak, dan sedekah, serta kegiatan keagamaan lainnya.
Oleh karena itu, percepatan pemulihan masjid menjadi prioritas agar masyarakat dapat menyambut Ramadan dengan lebih tenang dan khusyuk.
Komitmen Kemenag Jelang Ramadan
Langkah cepat Kemenag ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam menjaga hak beribadah masyarakat, bahkan di tengah situasi darurat. Pendekatan yang menggabungkan pemulihan fisik dan spiritual dinilai penting untuk membangun kembali ketahanan masyarakat pascabencana.
Dengan kolaborasi lintas lembaga dan keterlibatan aktif masyarakat, Kemenag berharap seluruh fasilitas ibadah dan pendidikan keagamaan di wilayah terdampak dapat kembali berfungsi optimal sebelum Ramadan tiba.
Penutup
Pemulihan fasilitas ibadah pascabanjir menjelang Ramadan menjadi bukti bahwa layanan keagamaan merupakan kebutuhan mendasar yang tidak boleh terabaikan. Melalui gerak cepat Direktorat Jenderal Bimas Islam, Kemenag memastikan masjid, KUA, dan madrasah kembali menjadi ruang aman, sumber penguatan spiritual, serta pusat kehidupan sosial umat.
Di tengah duka akibat bencana, langkah ini diharapkan mampu menghadirkan kembali harapan, ketenangan, dan semangat kebersamaan bagi masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Baca Juga : Natal Parlemen Teguhkan Solidaritas dan Prinsip Kemanusiaan
Cek Juga Artikel Dari Platform : monitorberita

