Suasana khidmat menyelimuti Taman Literasi saat doa bersama menjadi puncak perayaan menyambut Tahun Baru 2026. Ribuan warga yang hadir tidak larut dalam euforia berlebihan, melainkan memilih menutup tahun dengan munajat, refleksi, dan kepedulian terhadap sesama, khususnya bagi saudara-saudara di Pulau Sumatra yang terdampak banjir dan tanah longsor.
Untaian doa dipimpin oleh Muhammad Nurul Huda, yang mengajak seluruh hadirin memanjatkan doa keselamatan, ketabahan, serta kekuatan bagi para penyintas bencana. Lantunan doa menggema di ruang publik yang dikenal sebagai pusat literasi dan interaksi warga, menandai peralihan tahun dengan suasana yang tenang dan penuh makna.
Perayaan Tanpa Euforia, Sarat Empati
Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa perayaan tahun ini sengaja digelar berbeda. Tidak ada pesta kembang api maupun hiburan besar. Pilihan tersebut merupakan bentuk keprihatinan atas musibah bencana alam yang tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia.
“Kita menunjukkan rasa keprihatinan. Tidak ada penyalaan kembang api, melainkan kita berdoa bersama sambil menggalang donasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah, khususnya di Sumut, Sumbar, dan Aceh,” ujar Anwar, Kamis (1/1).
Menurutnya, konsep perayaan sederhana ini selaras dengan arahan Pramono Anung agar masyarakat tidak bereuforia secara berlebihan. Momentum pergantian tahun justru dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi diri dan refleksi bersama menyongsong tantangan tahun 2026.
Ruang Refleksi di Tengah Kota
Taman Literasi dipilih sebagai lokasi perayaan bukan tanpa alasan. Kawasan ini dinilai merepresentasikan nilai-nilai intelektual, keterbukaan, dan kebersamaan. Di bawah langit malam Jakarta Selatan, warga dari berbagai latar belakang duduk berdampingan, mengikuti doa, dan menyimak pesan-pesan kebajikan yang disampaikan.
“Kita perlu mengevaluasi dan merefleksi diri mengenai yang sudah dilakukan serta akan dilaksanakan pada tahun 2026,” terang Anwar.
Ia menambahkan, refleksi ini penting agar pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada nilai kemanusiaan, empati, dan kualitas hidup masyarakat.
Menjaga Kebersamaan dan Kondusivitas
Dalam sambutannya, Anwar menyampaikan beberapa pesan penting. Pertama, menjaga kebersamaan, kekompakan, dan kondusivitas yang selama ini terbangun antara Pemerintah Kota Jakarta Selatan, Forum Pimpinan Kota (Forkopimko), serta elemen masyarakat lainnya.
“Hal itu harus dijaga, karena orang akan melihat dari segi keamanannya. Jika suatu tempat aman, orang pasti akan berinvestasi, bekerja, serta berinteraksi di sana,” ungkapnya.
Keamanan dan ketertiban, lanjut Anwar, menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi, iklim investasi, dan kehidupan sosial yang sehat di Jakarta Selatan.
Dorongan Inovasi dan Peningkatan Layanan
Pesan kedua yang ditekankan adalah dorongan kepada seluruh jajaran Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk terus berinovasi. Menurut Anwar, tantangan Jakarta sebagai kota global menuntut peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan berkelanjutan, serta kesiapan sumber daya manusia.
“Mudah-mudahan dengan peningkatan pelayanan, sumber daya manusia, sarana prasarana, serta integrasi transportasi, peringkat kita akan naik kelas lagi di tingkat internasional,” harapnya.
Ia menilai, transformasi Jakarta menuju kota global tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur megah, tetapi juga oleh kualitas layanan, kecepatan respons, dan kenyamanan yang dirasakan warga sehari-hari.
Harapan Aparat Keamanan
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Nicolas Ary Lilipaly, turut hadir dan menyampaikan harapan agar tahun 2026 menjadi tahun yang lebih baik bagi Jakarta Selatan.
“Semoga Jakarta Selatan bisa terus aman, kondusif, dan semakin maju. Semua harus diiringi dengan usaha dan tekad yang kuat,” tandasnya.
Ia menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya aparat, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
Donasi untuk Penyintas Bencana
Selain doa bersama, acara di Taman Literasi juga diisi dengan penggalangan donasi bagi penyintas bencana di Pulau Sumatra. Pengunjung tampak antusias menyumbangkan sebagian rezekinya melalui sistem pembayaran digital yang disediakan panitia.
Hingga menjelang pergantian tahun, donasi yang terkumpul mencapai Rp 14.435.060. Dana tersebut rencananya akan disalurkan melalui lembaga resmi untuk membantu kebutuhan darurat para korban bencana, mulai dari logistik hingga kebutuhan dasar lainnya.
Penggalangan donasi ini memperkuat pesan bahwa perayaan tahun baru tidak harus identik dengan kemewahan, tetapi dapat menjadi momentum berbagi dan menumbuhkan solidaritas nasional.
Menyongsong 2026 dengan Kesadaran Baru
Perayaan Tahun Baru 2026 di Taman Literasi Jakarta Selatan menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai pusat refleksi dan kepedulian. Tanpa gemerlap kembang api, acara tetap terasa bermakna karena menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan harapan.
Dengan doa yang dipanjatkan, donasi yang dihimpun, serta pesan-pesan kebajikan yang disampaikan para pemimpin daerah, warga Jakarta Selatan menyongsong 2026 dengan kesadaran baru: bahwa kemajuan kota harus berjalan seiring dengan empati sosial dan solidaritas antar sesama.
Baca Juga : Perayaan Tahun Baru di Kota Tua Ditutup Doa Bersama
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : zonamusiktop

