Pemerintah Kabupaten Tangerang resmi menetapkan status tanggap darurat bencana banjir menyusul semakin meluasnya wilayah terdampak genangan air. Hingga pertengahan Januari, banjir telah menjangkau 24 kecamatan, menjadikannya salah satu kejadian banjir terluas dalam beberapa tahun terakhir di wilayah penyangga Ibu Kota tersebut. Penetapan status tanggap darurat dilakukan setelah evaluasi menyeluruh terhadap data lapangan, luasan bencana, serta potensi curah hujan yang masih tinggi.
Keputusan ini menjadi langkah strategis agar penanganan banjir dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif. Dengan status tanggap darurat, pemerintah daerah memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam mengerahkan sumber daya, menjalin koordinasi lintas sektor, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi.
Dasar Penetapan Status Tanggap Darurat
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, menjelaskan bahwa keputusan menetapkan status tanggap darurat didasarkan pada beberapa indikator utama. Di antaranya adalah luasnya sebaran banjir, jumlah warga terdampak, serta prakiraan cuaca yang masih menunjukkan potensi hujan lebat.
“Kita akan mengeluarkan status tanggap darurat. Status ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi data dan cakupan luasan banjir, serta atas dasar potensi tingginya curah hujan yang mengakibatkan luasan bencana banjir,” ujar Ahmad Taufik.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar administratif, melainkan upaya konkret untuk mempercepat penanganan di lapangan dan meminimalkan risiko lanjutan.
Banjir Rendam 24 Kecamatan
Banjir di Kabupaten Tangerang kali ini tergolong masif. Dari data BPBD, sebanyak 24 kecamatan dilaporkan terdampak dengan tingkat genangan yang bervariasi, mulai dari puluhan sentimeter hingga lebih dari satu meter di beberapa titik.
Wilayah-wilayah tersebut mencakup kawasan permukiman padat penduduk, daerah bantaran sungai, hingga wilayah dengan sistem drainase yang terbatas. Limpahan air dari sungai-sungai besar, salah satunya Sungai Cidurian, turut memperparah kondisi banjir dan menyebabkan air meluas ke area yang sebelumnya relatif aman.
Puluhan Ribu Warga Terdampak
Dampak banjir tidak hanya terlihat dari luasan wilayah, tetapi juga dari jumlah warga yang terdampak. Ahmad Taufik menyebutkan bahwa sekitar 10 ribu kepala keluarga (KK) atau 45 hingga 50 ribu jiwa terdampak langsung oleh bencana ini.
Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di rumah dengan segala keterbatasan. Kondisi ini menuntut respons cepat dari pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal sementara dapat terpenuhi.
Genangan Mulai Surut di Beberapa Titik
Meski banjir meluas, BPBD Kabupaten Tangerang melaporkan bahwa di sejumlah wilayah genangan air mulai berangsur surut. Hal ini terjadi seiring menurunnya intensitas hujan di beberapa hari terakhir dan upaya normalisasi aliran air.
“Yang surut juga banyak, tapi juga ada yang karena limpahan air Sungai Cidurian, sehingga terdampak ke masyarakat,” jelas Taufik.
Namun demikian, kondisi di lapangan masih fluktuatif. Curah hujan yang kembali meningkat berpotensi menyebabkan genangan naik kembali, terutama di daerah rendah dan dekat aliran sungai.
Manfaat Status Tanggap Darurat
Penetapan status tanggap darurat memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi pemerintah daerah. Salah satunya adalah kemudahan dalam koordinasi lintas sektor, baik dengan instansi vertikal, TNI-Polri, relawan, hingga organisasi kemanusiaan.
Selain itu, status ini memungkinkan percepatan penggunaan anggaran darurat untuk:
- Penyediaan logistik bagi pengungsi
- Penyiapan dapur umum
- Distribusi air bersih dan MCK darurat
- Layanan kesehatan dan evakuasi
“Langkah ini juga bisa dimanfaatkan untuk penyiapan sarana dan prasarana untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak bencana banjir,” tambah Taufik.
Tantangan Penanganan Banjir di Tangerang
Banjir yang melanda Kabupaten Tangerang menyoroti tantangan klasik penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah perkotaan dan peri-urban. Pertumbuhan permukiman yang pesat, alih fungsi lahan, serta keterbatasan sistem drainase menjadi faktor yang memperbesar dampak banjir.
Selain itu, posisi geografis Tangerang yang dilalui sejumlah sungai besar membuat wilayah ini rentan terhadap limpahan air, terutama saat hujan deras terjadi secara terus-menerus di hulu.
Upaya Mitigasi dan Penanganan Jangka Panjang
Selain penanganan darurat, Pemkab Tangerang juga dihadapkan pada kebutuhan mitigasi jangka panjang. Evaluasi sistem drainase, normalisasi sungai, pembangunan kolam retensi, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi agenda penting agar dampak banjir serupa dapat ditekan di masa mendatang.
BPBD bersama dinas terkait diharapkan dapat memanfaatkan momentum tanggap darurat ini untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Peran Masyarakat dan Solidaritas Sosial
Dalam situasi bencana, peran masyarakat dan solidaritas sosial menjadi faktor krusial. Banyak warga yang saling membantu, membuka dapur umum mandiri, hingga bergotong royong membersihkan lingkungan setelah air surut.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, serta tidak memaksakan diri beraktivitas di wilayah yang masih tergenang demi keselamatan bersama.
Penutup
Penetapan status tanggap darurat banjir oleh Pemkab Tangerang menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana yang meluas hingga 24 kecamatan. Dengan puluhan ribu warga terdampak, langkah ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat penanganan, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, dan meminimalkan dampak lanjutan.
Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih membayangi, koordinasi lintas sektor, kesiapsiagaan masyarakat, serta komitmen pemerintah menjadi kunci agar Kabupaten Tangerang dapat segera bangkit dari bencana banjir dan membangun ketahanan yang lebih kuat ke depan.
Baca Juga : Jelang Ramadan, Kemenag Pulihkan Fasilitas Ibadah Pascabanjir
Cek Juga Artikel Dari Platform : koronovirus

