wikiberita.net Pemulihan layanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana kembali menjadi prioritas utama. Di Kabupaten Bener Meriah, kerusakan infrastruktur air bersih akibat banjir dan longsor menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan warga. Menyikapi kondisi tersebut, PT Waskita Karya memastikan langkah konkret dengan memulai perbaikan sejumlah intake air milik Perumda Tirta Bengi.
Langkah ini dipandang krusial karena intake air merupakan titik awal distribusi air bersih. Ketika fasilitas ini rusak atau hilang terbawa arus, pasokan air ke rumah-rumah warga ikut terganggu.
Intake Batu Lepes Jadi Prioritas Utama
Perbaikan difokuskan terlebih dahulu pada Intake Batu Lepes di wilayah Lampahan. Intake ini menjadi prioritas karena berfungsi sebagai salah satu sumber utama pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar. Kerusakan pada titik ini berdampak langsung pada ribuan warga yang menggantungkan kebutuhan air harian dari jaringan PDAM.
Plt Direktur Perumda Tirta Bengi, Samusi Purnawira Dade, menjelaskan bahwa banjir bandang dan longsor menyebabkan sebagian intake mengalami kerusakan berat, bahkan ada yang hilang terbawa arus. Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih tidak berjalan normal selama masa tanggap darurat.
Dampak Kerusakan Intake terhadap Pelayanan Publik
Air bersih merupakan kebutuhan vital. Ketika distribusi terganggu, dampaknya merembet ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, kebersihan lingkungan, hingga aktivitas ekonomi warga. Di wilayah terdampak, masyarakat terpaksa mengandalkan sumber air alternatif yang belum tentu layak konsumsi.
Kerusakan intake juga memaksa Perumda Tirta Bengi melakukan pengaturan distribusi darurat. Namun solusi sementara ini tidak bisa menggantikan fungsi intake secara penuh. Oleh karena itu, perbaikan permanen menjadi kebutuhan mendesak.
Respons Cepat Waskita Karya
Keterlibatan PT Waskita Karya dalam perbaikan intake mendapat apresiasi dari pihak Perumda Tirta Bengi. Respons cepat dari perusahaan konstruksi nasional ini dinilai membantu mempercepat proses pemulihan layanan dasar bagi masyarakat.
Perbaikan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan pascabencana yang masih rawan. Selain membangun kembali struktur intake, aspek penguatan konstruksi juga menjadi perhatian agar fasilitas lebih tahan terhadap risiko banjir dan longsor di masa mendatang.
Koordinasi Lintas Pihak Jadi Kunci
Proses pemulihan infrastruktur air bersih tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Perumda Tirta Bengi terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat setempat, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan perbaikan berjalan lancar.
Koordinasi ini penting agar akses ke lokasi perbaikan, pengamanan area, serta dukungan logistik dapat terpenuhi. Dengan kerja sama yang solid, diharapkan proses perbaikan tidak menemui hambatan berarti.
Harapan Pemulihan Distribusi Air Bersih
Dengan dimulainya perbaikan Intake Batu Lepes, harapan besar muncul agar distribusi air bersih segera kembali normal. Pemulihan layanan ini akan sangat membantu warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari, terutama di masa pascabencana yang penuh keterbatasan.
Samusi menegaskan bahwa kembalinya pasokan air bersih secara optimal akan menjadi langkah awal untuk memulihkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Pelajaran dari Bencana dan Mitigasi ke Depan
Bencana banjir dan longsor yang merusak intake air bersih menjadi pengingat pentingnya mitigasi infrastruktur. Perencanaan ke depan perlu memasukkan aspek ketahanan terhadap bencana alam, terutama di daerah dengan kondisi geografis rawan.
Penguatan struktur intake, penataan daerah aliran sungai, serta pemantauan lingkungan menjadi langkah jangka panjang yang perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, risiko kerusakan serupa dapat diminimalkan di masa depan.
Peran Infrastruktur Air dalam Ketahanan Daerah
Ketersediaan air bersih bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga ketahanan daerah. Infrastruktur air yang andal memungkinkan masyarakat bertahan dan pulih lebih cepat setelah bencana. Oleh karena itu, investasi dalam perbaikan dan peningkatan kualitas fasilitas air bersih memiliki dampak jangka panjang.
Kasus di Bener Meriah menunjukkan bahwa pemulihan infrastruktur dasar harus berjalan seiring dengan upaya penanganan bencana lainnya.
Apresiasi dan Dukungan Masyarakat
Masyarakat setempat menyambut positif dimulainya perbaikan intake PDAM. Bagi warga, langkah ini menjadi sinyal bahwa pemulihan pascabencana berjalan ke arah yang lebih baik. Dukungan masyarakat juga diharapkan dapat menjaga kelancaran proses perbaikan di lapangan.
Partisipasi warga dalam menjaga fasilitas yang telah diperbaiki menjadi bagian penting dari keberlanjutan layanan air bersih.
Kesimpulan: Langkah Penting Menuju Normalisasi Layanan
Dimulainya perbaikan intake PDAM oleh PT Waskita Karya menjadi langkah penting dalam pemulihan pascabencana di Bener Meriah. Fokus pada Intake Batu Lepes menunjukkan pendekatan prioritas yang tepat demi mengembalikan layanan air bersih bagi masyarakat.
Dengan koordinasi yang baik dan dukungan semua pihak, proses perbaikan diharapkan berjalan lancar. Pemulihan infrastruktur air bersih ini bukan hanya soal membangun kembali fasilitas, tetapi juga membangun kembali harapan dan kualitas hidup warga terdampak bencana.

Cek Juga Artikel Dari Platform musicpromote.online
