Korban Tewas Bertambah di Tengah Proses Evakuasi
Jumlah korban tewas akibat longsor gunungan sampah di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di Filipina bertambah menjadi enam orang. Bencana ini terjadi di TPA Binaliw, wilayah tengah negara tersebut, dan menimbun puluhan pekerja kebersihan yang sedang berada di area fasilitas.
Tim penyelamat masih terus bekerja menyisir puing-puing dengan mengenakan helm proyek dan mengerahkan alat berat. Namun, proses evakuasi berlangsung lambat dan penuh risiko karena potensi longsor susulan dari gunungan sampah yang belum stabil.
Puluhan Pekerja Tertimbun Saat Insiden Terjadi
Insiden terjadi pada Kamis lalu ketika tumpukan sampah raksasa di TPA Binaliw runtuh secara tiba-tiba. Menurut keterangan anggota dewan kota setempat, sekitar 50 pekerja kebersihan berada di area tersebut saat longsor terjadi.
Tumpukan sampah yang runtuh diperkirakan memiliki ketinggian setara 20 lantai, membuat dampaknya sangat besar. Reruntuhan tidak hanya menimbun area kerja, tetapi juga bangunan di sekitar fasilitas, termasuk rumah staf.
Evakuasi Dihantui Risiko Longsor Susulan
Proses pencarian korban berlangsung dalam kondisi yang sangat berbahaya. Petugas penyelamat dari Cebu, Jo Reyes, menyatakan bahwa operasi sering kali harus dihentikan sementara demi keselamatan tim.
“Operasi masih berlangsung dan bersifat berkelanjutan. Namun dari waktu ke waktu, area landfill bergerak, sehingga kami harus menghentikan sementara kegiatan,” kata Reyes.
Menurutnya, pergerakan sampah akibat tekanan dari atas dan kondisi tanah yang tidak stabil membuat risiko longsor susulan tetap tinggi. Keselamatan petugas menjadi prioritas utama dalam setiap langkah evakuasi.
Informasi Terbatas karena Kendala Sinyal
Informasi dari lokasi bencana tidak langsung mengalir lancar ke publik. Area TPA diketahui memiliki keterbatasan sinyal komunikasi, sehingga data korban dan perkembangan evakuasi keluar secara bertahap.
Anggota Dewan Kota Cebu, Joel Garganera, menyebut bahwa hingga pukul 10.00 waktu setempat, empat korban telah dipastikan meninggal dunia, sementara 34 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Seiring berjalannya waktu, jumlah korban tewas kemudian diperbarui menjadi enam orang.
Ia menjelaskan bahwa para korban berada di berbagai titik di dalam fasilitas, termasuk area kerja dan hunian staf yang berada di sekitar TPA.
Medan Sulit dan Beban Material Baja
Garganera menggambarkan medan evakuasi sebagai salah satu yang paling sulit yang pernah dihadapi tim penyelamat. Selain timbunan sampah, banyak material baja dari bangunan yang ikut ambruk dan menyulitkan pencarian.
“Banyak material berat dan pergerakan sampah akibat beban dari atas. Namun kami masih berharap, melawan harapan, akan ada keajaiban,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tim belum beralih ke tahap pemulihan jenazah karena keluarga korban masih menunggu kabar baik. Fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang kemungkinan masih hidup.
Belasan Pekerja Berhasil Diselamatkan
Di tengah situasi mencekam, tim penyelamat berhasil mengevakuasi sedikitnya 12 pekerja dalam kondisi hidup. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Keberhasilan ini menjadi secercah harapan bagi keluarga korban lain yang masih menunggu kabar. Namun, waktu menjadi faktor krusial karena peluang selamat terus menurun seiring berjalannya waktu.
Cuaca dan Karakter Sampah Perparah Risiko
Garganera juga menyoroti faktor cuaca dan karakteristik sampah sebagai penyebab utama tingginya risiko longsor. Sampah yang menyerap air membuat struktur timbunan menjadi berat dan mudah bergeser.
Ketinggian gunungan sampah di TPA Binaliw dinilai sudah lama mengkhawatirkan. Dengan puncak timbunan setara bangunan 20 lantai, tekanan pada bagian bawah sangat besar.
Keluhan terkait akses jalan yang terjal menuju puncak TPA disebut telah lama disampaikan, namun belum sepenuhnya ditangani.
Pukulan Ganda bagi Kota Cebu
Bencana ini disebut sebagai “pukulan ganda” bagi Kota Cebu. Selain menelan korban jiwa, TPA Binaliw merupakan satu-satunya fasilitas pengolahan sampah yang melayani kota tersebut dan sejumlah komunitas di sekitarnya.
Fasilitas ini memiliki kapasitas sekitar 1.000 ton sampah per hari. Dengan lumpuhnya operasional TPA, pemerintah daerah kini menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah kota.
Foto-foto yang beredar menunjukkan gunungan sampah raksasa di perbukitan tepat di belakang bangunan administrasi, memperlihatkan skala masalah yang dihadapi.
Kesaksian Pekerja yang Selamat
Salah satu pekerja yang selamat, Rita Cogay (49), menceritakan detik-detik menjelang longsor. Ia mengatakan selamat karena kebetulan keluar untuk mengambil minum sesaat sebelum bangunan tempatnya bekerja ambruk.
“Saya kira ada suara helikopter jatuh, tapi ternyata tumpukan sampah beserta reruntuhan bangunan yang mengikutinya,” ujar Cogay.
Kesaksiannya menggambarkan betapa cepat dan tak terduganya peristiwa tersebut terjadi.
Sorotan pada Keselamatan dan Pengelolaan Sampah
Bencana ini memicu sorotan terhadap standar keselamatan kerja dan sistem pengelolaan sampah di Filipina. Banyak pihak menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap TPA yang dikelola swasta maupun pemerintah.
Pengelolaan timbunan sampah dengan ketinggian ekstrem dinilai berisiko tinggi jika tidak disertai pengawasan ketat dan sistem drainase yang memadai.
Penutup
Longsor di TPA Binaliw, Cebu, menjadi tragedi kemanusiaan yang menelan korban jiwa dan menyisakan duka mendalam. Dengan korban tewas yang telah bertambah menjadi enam orang dan puluhan lainnya masih hilang, operasi penyelamatan terus berpacu dengan waktu dan risiko.
Di balik upaya heroik tim penyelamat, bencana ini juga menjadi peringatan keras akan pentingnya keselamatan kerja dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan demi mencegah tragedi serupa di masa depan.
Baca juga : Polda Metro Jaya Janji Transparan Usut Laporan Pandji
Cek Juga Artikel Dari Platform : zonamusiktop

